Akhir-akhir ini di bulan Ramadhan, kita disuguhkan iklan-iklan baru, yang memang dibuat khusus untuk bulan Ramadhan. Diantara iklan-iklan tersebut, ada satu iklan yang menarik perhatian, yaitu iklan perusahaan provider telekomunikasi. Entah mengapa rasanya kurang setuju dengan salah satu pesan yang disampaikan pada iklan tersebut.

Jadi ceritanya, pada iklan tersebut ada sekelompok pemuda (laki2 semua) yang sering kongko-kongko tidak jelas dan sia-sia. Pada bulan puasa pun disaat yang lainnya tarawih mereka tetap menjalankan kebiasaan mereka itu. Suatu ketika disaat mereka kongko, Pak Haji dan anaknya (yang ini perempuan) lewat di depan mereka. Salah satu pemuda tersebut ternyata punya hati terhadap anak Pak Haji. Singkat cerita akhirnya dia tobat, kemudian mengganti RBT nya dengan lagu religi.

Yang mengganjal sebenarnya adalah alasan/niat pemuda itu bertobat. Pada iklan tersebut seolah2 yang menjadi alasan utamanya adalah anak Pak Haji. Kalau seperti itu niatnya, bagaimana bila akhirnya si pemuda tadi tidak berhasil untuk mendapatkan hati anak Pak Haji, mungkin saja dia akan menyalahkan penciptanya, tidak jadi bertobat dan kembali kongko2 bersama teman-temannya.

Sebenarnya bukan tobat saja tapi semua bentuk ibadah harus didasari dengan niat ikhlas kepada Khalik. Ibadah ini pun artinya luas, tidak hanya ibadah yang sifatnya vertikal (solat, puasa,dll), tetapi juga yang horizontal (membantu teman, mengerjakan TA, makan, belajar, tidur, dll).

Jadi menurut Saya iklan tersebut bisa memberikan persepsi yang salah bagi yang melihatnya, apalagi iklan tersebut ditayangkan pada prime time bulan Ramadhan (sebelum maghrib), semakin banyak saja yang melihatnya. Seharusnya iklan yang disajikan di Bulan Ramadhan bisa memberikan pesan dengan unsur da’wah yang disertai unsur komersil juga tentunya.

“Maaf untuk yang tidak berkenan, hanya ingin berbagi, karena sudah menjadi kewajiban manusia untuk berda’wah dan saling mengingatkan”

Advertisement