Hmm,, saya mengawali tulisan saya ini dengan satu pertanyaan “Untuk apa kita hidup?”. Pertanyaan yang mendasar, tapi banyak orang yang bingung ataupun keliru untuk menjawab pertanyaan ini. Walaupun kebenaran dari pertanyaan ini relatif, tetapi saya memiliki pemikiran sendiri yang akan saya tuangkan pada tulisan ini.
Kenapa kita terpilih untuk dilahirkan. Bayangkan saja diantara jutaan sperma yang berlomba-lomba untuk membuahi sel indung telur hanya satu yang menjadi pemenang, dan itu diri kita sendiri, “how lucky we are”. Sekali lagi kenapa kita yang dipilih, semua itu jelas punya tujuan.
Kita telah ditakdirkan Allah menjadi manusia, seorang khalifah bagi dirinya sendiri dan juga alam ini. Suatu amanah yang sangat berat, bahkan gunung dan langit sekalipun menolak ketika diminata Allah untuk dijadikan khalifah di bumi ini. Selain itu manusia juaga diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan mencari ridho sang khalik tersebut. Dua point itulah yang mau saya angkat dalam tulisan saya ini.
Khalifah atau dalam bahasa Indonesia Pemimpin yaitu, dalam pengertian awam, orang yang bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dipimpinnya. Pengertian itu mengimplikasikan bahwa kita bertanggung jawab atas diri sendiri dan lingkungan sekitar. Coba direnungkan sudah seberapa baik diri kita dan sudah seberapa beres lingkungan sekitar kita. Banyak diantara kita hanya peduli pada dirinya sendiri dan kurang peduli dengan orang lain, sebagian mereka beralasan bahwa diri sendiri saja belum benar sudah mau mengatur orang lain. Anggapan yang menurut saya salah, saya berpikir 2 hal (memperbaiki diri sendiri dan memperbaiki lingkungan sekitar) tersebut harus dilaksanakan secara bersamaan, klo menunggu untuk memperbaiki diri baru peduli terhadap orang lain, saya rasa kita tidak akan pernah punya kesempatan untuk peduli kepada orang lain. Ya pikirkan saja tidak ada parameter yang baku untuk mengukur kualitas seseorang, bisa saja orang yang sudah cukup berkualitas menganggap dirinya tidak berkualitas, selain itu kualitas seseorang itu bersifat fluktuatif, dengan alasan itu predikat baik pada diri sendiri tidak perlu dijadikan prasyarat untuk peduli dan berkontribusi terhadap orang lain.
Pada dasarnya manusia memiliki keinginan untuk diperhatikan, untuk itulah tidak perlu ragu untuk sama-sama saling mengingatkan, apabila ini dilakukan sesuai dengan proporsinya akan tercipta suatu hubungan yang saling menguntungkan dan secara tidak langsung mengakrabkan hubungan antar personal di dalam suatu komunitas.
Untuk alasan kedua saya mengutip ayat Azzariyat:56 , “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku”, dari ayat diatas jelaslah bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Tuhan. Konteks beribadah ini sangat luas, bukan hanya melingkupi ibadah vertikal saja, tetapi juga horizontal. Banyak yang terjebak dalam konteks berpikir bahwa yang namanya beribadah adalah ibadah yang berhubungan langsung dengan tuhan atau biasa disebut dengan ritual, bagi orang Islam contohnya solat, puasa, berzakat. Ibadah tidak hanya itu saja, semua aktifitas yang kita lakukan memiliki nilai ibadah, menuntut ilmu, bersosialisasi, mengerjakan tugas, bahkan hal kecilpun seperti mandi ataupun tidur dapat memiliki nilai ibadah. Hanya satu hal yang menjadikan aktifitas kita memiliki nilai ibadah yaitu niat, coba kita renungkan kembali apa yang menjadi niat kita ketika melakukan semua hal tersebut. Contoh, sebagai mahasiswa informatika,yang kehidupannya selalu dipenuhi dengan tubes, apa tujuan kita mengerjakan tugas-tugas tersebut? Sangat disayangkan apabila tujuan kita hanya nilai, ada hal lain yang jauh lebih berharga dari itu semua. Niat disini juga berpengaruh pada penyikapan kita terhadap hasil dari aktiftas yang kita lakukan, dengan niat yang berorientasikan hasil bisanya akan muncul sikap menyalahkan diri sendiri, merasa tidak mampu apabila hasil yang kita peroleh tidak sebanding dengan usaha yang kita lakukan dan sikap-sikap tersebut kemungkinan besar akan berujung pada keputusasaan. Berbeda apabila niat kita ikhlas untuk beribadah kepada 4JJ, dengan niat seperti itu kita memiliki anggapan bahwa semakin besar usaha yang kita lakukan semakin besar nilai ibadah yang kita terima, tetntu saja anggapan ini akan meningkatkan kinerja kita dalam melakukan aktifitas tersebut dan walaupun nantinya hasil yang kita peroleh tidak sesuai dengan harapan kita, kita tidak akan terjebak di dalam keputusasaan, karena nilai yang jauh lebih besar sudah kita dapatkan melalui proses kerja keras yang telah kita lakukan.
Jadi idealnya hidup ini harus diwarnai dengan berbenah diri dan berkontribusi, kemudian jangan lupa semua itu harus dilandasi dengan niat ikhlas untuk beribadah dan mengharap rido darinya.

1 comment
Comments feed for this article
December 12, 2007 at 3:55 pm
Ram-Ram Muhammad
Nambahin ya,
Ada juga pertanyaan paling mendasar yang juga disebutkan di dalam al-Quran. Yaitu “Akan ke mana kalian (manusia)?”. Akan menuju ke manakah kita? Pertanyaan pendek yang memerlukan perenungan panjang.