Siang pada hari Minggu 28 September 2008, tidak ada yang istimewa pada siang itu, lumrahnya siang di Jakarta matahari bersinar sangat terik, udara pun terasa panas dan lembab. Kondisi cuaca seperti ini yang membuat orang malas untuk keluar dari rumah, apalagi sekarang adalah bulan puasa, dan tentu saja hal paling menyenangkan untuk dilakukan di siang bulan puasa adalah membaringkan diri sambil menonton TV.
Pukul 11.55 adzan berkumandang, bersahutan-sahutan antara masjid yang satu dengan masjid yang lainnya, dilantunkan dengan sangat indah oleh muadzin dengan tujuan menyeru para umat Islam untuk menunaikan salat. Dengan perasaan sedikit malas ku paksakan diri ini untuk beranjak dari perbaringan dan bersegera pergi ke Masjid. Perjalanan dari rumah ke Masjid ditempuh dalam waktu antara 2-3 menit, cukup dekat memang dan aku sangat bersyukur tinggal dekat dengan masjid, karena tidak memerlukan usaha yang besar untuk pergi ke masjid, namun di satu sisi juga menyesal karena katanya pahala pergi ke masjid sebanding dengan jumlah langkah yang kita keluarkan.
Setelah iqomah dikumandangkan para ma’mun bergegas menuju shaf terdepan. ketika berjalan untuk berlomba mendapatkan shaf terdepan pandangan mataku terarah ke pojok kanan depan masjid, di situ tergelatak kurung batang berisi mayit yang siap untuk disolatkan. Biasanya solat mayit dilakukan setelah solat wajib. Lima menit setelah salat dilaksanakan beberapa jamaah dan kerabat almarhum mengangkat kurung batang dan meletakannya di tengah-tengah masjid. Walaupun aku tidak bisa salat mayit namun aku ikut menyolatkan mayit tersebut, ya sebenarnya aku malu terhadap diri sendiri sudah sebesar ini belum bisa salat mayit, padahal salat ini hukumnya fardu kifayah. Bagaimana nanti apabila aku dipanggil olehnya, mengharapkan orang lain menyolatkanku padahal diri sendiri tidak bisa salat mayit.
Hinggap perasaan aneh ketika kita melihat fenomena kematian. Sedih dan merasa kasihan kepada almarhum dan keluarga yang ditinggalkan, itulah perasaan yang mendominasi, setidaknya itu yang aku rasakan sampai beberapa tahun yang lalu. Namun beberapa tahun ini penyebab rasa sedih itu berubah, biasanya rasa itu disebabkan karena perpisahan almarhum dan keluarga untuk selamanya, sekarang perasaan itu disebabkan karena menyadari betapa belum siapnya diri ini menghadapi kematian. Terkadang diri ini masih terjebak pada perbuatan maksiat, menghabiskan waktu dengan perbuatan sia-sia, melaksanakan salat diakhir waktu ketika dalam keadaan sibuk, dan apabila berbuat baik pun terkadang tidak didasari dengan niat yang tulus, ya Allah ampunilah hambamu ini.
Ada satu hal yang pasti kita ketahui dan satu hal yang tidak pasti kita ketahui. Hal pertama adalah kematian dan hal yang kedua adalah waktu kematian itu. Walaupun umur sesorang sudah ditentukan namun kita tidak pernah mengetahui kapan malaikat izrail menjemput kita. Teramat sombong orang yang menganggap esok pasti masih ada. Sebagai manusia kita memang harus berencana agar waktu yang diberikan dapat termanfaatkan dengan baik, namun jangan lupa menyertakan frase “jikalau esok masih ada” dalam perencanaan kita.
Sesungguhnya hal paling berharga adalah waktu karena kita tidak pernah dapat menambahnya dan selalu berkurang detik demi detik, waktu merupakan amanat dari Allah S.W.T. dan akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Oleh sebab itu ya Allah lindungilah hambamu ini dari perbuatan sia-sia dan jadikan sisa-sisa detik ku di dunia ini bermakna…..